Wednesday, September 30, 2015

THE POWER OF ‘MALE GAZE’


        
THE POWER OF ‘MALE GAZE’
(Kuatnya ‘Male Gaze’ dalam Tayangan Televisi di Indonesia,
Mister Tukul Jalan-jalan Trans7)





Eksistensi Tayangan Mistis di Indonesia
Di tengah tayangan-tayangan  komedi dan hiburan yang kian menjamur dan mewabah di Indonesia, tayangan bertemakan mistis yang berbau hal mistis ternyata masih mempunyai tempat tersendiri di hati pemirsanya. Bahkan setelah gempuran drama-drama yang dari negara luar seperti India dan Turki yang kehadirannya sempat membius perhatian masyarakat Indonesia pun, tayangan mistis masih saja mampu bertahan hingga kini. Tayangan-tayangan mistis seperti mampu membuat pemirsanya selalu penasaran dan menunggu-nunggu setiap ‘cerita’ dalam setiap episode yang disajikan.
Sebut saja beberapa tayangan mistis seperti Jejak Paranormal yang ditayangkan oleh stasiun televisi ANTV dan Mister Tukul Jalan-Jalan yang ditayangkan oleh Trans7. Kedua tayangan tersebut merupakan dua contoh tayangan mistis yang masih eksis dan populer di kancah pertelevisian Indonesia.
Daya tarik yang ditawarkan oleh tayangan-tayangan mistis di Indonesia adalah terjadinya berbagai fenomena mistis yang menarik perhatian dan rasa penasaran pemirsanya. Misalnya, terjadinya fenomena kesurupan, bahkan penampakan makhluk astral yang merupakan daya tarik utama tayangan mistis. Penampakan makhluk astral yang terekam kamera, seperti menjadi tolak ukur tersendiri bagi keberhasilan dan kesuksesan suatu tayangan mistis. Semakin banyakan penampakan yang ditayangkan, semakin tinggi pula antusiasme dan daya tarik yang dimiliki oleh tayangan tersebut. Sebut saja tayangan “Dunia Lain” dan “Masih Dunia Lain” di Trans7, yang sempat melejit beberapa waktu yang lalu. Dalam setiap episodenya, tayangan ini hampir selalu menampilkan berbagai penampakan makhluk astral yang terkadang terlihat jelas di kamera.
Tayangan-tayangan mistis selalu berpindah set dan cerita, dalam artian hampir dalam setiap episodenya tayangan ini selalu mengambil lokasi dan mengusung cerita mistis yang berbeda dari masing-masing lokasi dan daerah yang dikunjungi. Tayangan mistis mengangkat berbagai cerita ‘urban legend’ untuk disuguhkan kepada pemirsanya. Hal ini lah yang menjadi salah satu daya tarik tayangan mistis di Indonesia.
Kehadiran para praktisi supranatural atau paranormal agaknya juga menjadi daya tarik tambahan bagi suatu tayangan bertema mistis. Para ‘orang pintar’ tersebut seolah dapat membuat pemirsanya ikut manggut-manggut mendengar penjelasannya akan berbagai makhluk yang ‘hadir’ disekitar mereka, serta aksi dan jurus mereka dalam menaklukkan berbagai makhluk tak kasat mata.
Seiring dengan semakin berjalannya waktu, kepopuleran tayangan mistis di Indonesia, kini tidak hanya bergantung dari fenomena-fenomena dan lokasi angker dan mistis yang ditawarkan pada pemirsa. Namun, dewasa ini pemirsa tayangan mistis juga disuguhi hadirnya berbagai faktor menarik lain dalam tayangan mistis masa kini. Sebut saja kehadiran para artis yang menjadi pembawa acara dan host yang memandu tayangan tersebut, sehingga menjadi daya tarik lain bagi pemirsanya.

‘Male Gaze’ dalam Tayangan Mistis Indonesia
Ada hal lain yang tidak dapat dilepaskan dan bisa dibilang identik dengan tayangan mistis masa kini, yaitu kehadiran ‘artis-artis wanita’ yang menjadi pendamping pembawa acara dalam tayangan mistis tersebut.
Dalam sebuah literatur tentang gender dan media menyingkapkan ketidaksetaraan yang mendasar dalam frekuensi pemuatan perempuan dan laki-laki di media. Sementara kendali atas kreasi dan produksi citra media juga berada dalam genggaman laki-laki, Croteau dan Hoynes (Ibrahim, 2007:4). Dalam tayangan televisi wanita digunakan sebagai daya tarik dalam sebuah tayangan oleh produsen media. Perempuan dijadikan sebagai sebuah objek yang menarik untuk dimasukkan keterlibatannya dalam semua jenis acara. Kehadiran para artis wanita dalam suatu tayangan seperti menjadi pemandangan yang menyegarkan mata. Dalam male gaze, wanita dianggap sebagai sebuah objek yang menjadi daya tarik tersendiri bagi suatu tayangan televisi.
Salah satu tayangan mistis yang memanfaatkan male gaze dalam setiap episodenya adalah tayangan “Mister Tukul Jalan-jalan” Trans7. Program yang menggandeng Tukul Arwana, satu pembawa acara terkenal di Indonesia ini mengusung tema dan bintang tamu ‘wanita’ yang berbeda pula di setiap episodenya. Hal ini tentu saja menghadirkan warna tersendiri bagi para pemirsanya khususnya laki-laki, karena tak jarang para bintang tamu yang dihadirkan terkesan ‘sengaja’ berpakaian mencolok dan seksi untuk mengundang perhatian.
Kehadiran para wanita dalam tayangan “Mister Tukul Jalan-jalan”, seperti memberikan daya tarik ganda bagi pemirsa dan penggemar tayangan dengan genre ini. karena selain disuguhi dengan fenomena-fenomena mistis seperti tayangan mistis pada umumnya, pemirsa khususnya kaum laki-laki juga disuguhi dengan kehadiran bintang tamu artis wanita yang ikut hadir dalam tayangan tersebut.
Para artis wanita yang terlibat dalam tayangan ini, biasanya akan ikut dalam sebuah investigasi yang dilakukan Tukul dan kawan-kawannya di sebuah lokasi yang terkenal angker. Para wanita tersebut biasanya akan selalu berdiri disamping si pembawa acara untuk di ‘perlihatkan’ kehadiran dan sosoknya pada pemirsa.

Conclusion: Pentingkah Kehadiran Wanita dalam Tyangan Mistis?
Ada kesenjangan yang dipersepsikan antara “bagaimana perempuan itu sebenarnya dan bagaimana citra media tentang perempuan”( Mulyana & Solatun, 2007: 318-319). Dibalik representasi perempuan di televisi yang cenderung kurang pas dan selalu menjadi objek, perempuan dalam konstruksi lain (feminis) direpresentasikan sebagai makhluk anggun dan santun. Namun kenyataan yang terjadi dalam realitas sehari-hari berkata lain.
Dalam tayangan televisi Indonesia, khususnya dalam tayangan Mister Tukul Jalan-jalan, wanita direpresentasikan sebagai suatu pelengkap yang menarik dan penghias malam (karena acara tersebut ditayangkan di malam hari). Wanita digunakan untuk menarik perhatian dan sebagai pemuas mata laki-laki. Maka tak heran bahwa pada penampilannya di layar kaca, wanita cenderung megenakan pakaian yang dianggap seksi, menarik dan eye-catching untuk menarik mata pemirsanya.
Meskipun kontribusinya dalam tayangan ini secara praktek tidak begitu kentara, namun kehadiran mereka seperti memberikan kesan tersendiri dalam acara tersebut. Mereka terkesan hanya sebagai pemanis dan hiasan yang dipajang selama berlangsungnya acara tersebut, karena mereka akan selalu ikut kemanapun si pembawa acara pergi.
Dalam tayangan mistis seperti “Mister Tukul Jalan-jalan”, kehadiran para wanita tersebut seperti dipaksakan. Karena sebenarnya, tidak ada korelasi yang jelas antara kehadiran mereka dengan konsep acara tersebut. Wanita hanya menjadi objek dari male gaze saja. Karena sebenarnya kehadiran wanita seksi dalam acara ini pun bisa dibilang nyeleneh (aneh).
Kehadiran wanita-wanita dalam suatu tayangan televisi memang sudah terbukti ampuh menjadi daya tarik tersendiri. Namun, kehadiran wanita seharusnya diimbangi dengan kontribusinya bagi sebuah acara, agar wanita tidak terkesan hanya sebagai objek pemanis dan penarik perhatian saja.
Kehadiran wanita juga harus menyesuaikan tema dan konsep dari acara yang ditayangkan. Akan terkesan aneh bila sebuah tayangan mistis tiba-tiba menyelipkan visualisasi wanita berpakaian minim didalamnya. Sehingga konsep awal dari acara tersebut akan pudar dan tertutup dengan dominannya kehadiran si wanita didalamnya.



Daftar Pustaka :

Ibrahim, Idi Subandy (2007). Budaya Populer sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.

 Mulyana, Deddy & Solatun (2007). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.








Sunday, September 20, 2015

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA: ANALISIS KONFLIK PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (RI) DAN GERAKAN ACEH MERDEKA (GAM)




·                Pihak yang Berkonflik
Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bentukan Tengku Hasan M.di Tiro.

·                Pemicu Konflik RI dan GAM
Berakhirnya Orde Lama, membawa harapan besar bagi tokoh-tokoh Aceh tentang perkembangan dan kemajuan pada bidang ekonomi, sosial dan politik  yang akan terjadi di wilayah mereka. Namun, kenyataan yang terjadi justru tidak sesuai dengan ekspektasi.  Di Orde Baru sekalipun, masyarakat Aceh masih saja miskin. Kekayaan alam Aceh di ambil oleh pemerintah pusat dan dikembalikan dalam bentuk yang tidak sebanding dengan kontribusinya bagi negara.
Pada 1970, pemerintahan Orde Baru pun makin agresif terhadap ulama-ulama dan lembaga keagamaan di Aceh. Hal ini ditandai dengan dibatalkannya Perda No. 6 Tahun 1968 tentang ketentuan Pokok Pelaksanaan Unsur-Unsur Syariat Islam di Daerah Istimewa Aceh karena munculnya asas tunggal Pancasila.
Dari segi ekonomi, berdirinya industri-industri di Aceh Utara seperti pabrik LNG, Mobil Oil, PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Aceh Asean Fertilizer, PT. Kraft Aceh, serta sejumlah industri hilir yang berorientasi ekspor, tidak diimbangi dengan perubahan yang signifikan bagi keadaan ekonomi Aceh. Sebagian besar hasil dari Industri tersebut masuk ke pemerintah pusat dan hanya sebagian kecil yang masuk ke pundi ekonomi Aceh.
Selain pembagian hasil yang tidak seimbang, pendirian industri-industri tersebut juga berdampak pada terpinggirnya tenaga kerja lokal, karena industri tersebut lebih memilih untuk mendatangkan tenaga ahli dari luar Aceh. Hal ini tentu saja selain menimbulkan gap ekonomi yang makin besar, juga menimbulkan kecemburuan social di tengah masyarakat.
Ketidakpuasan akan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di Aceh tersebut lah yang menjadi acuan bagi Tengku Hasan M.di Tiro (disingkat Hasan Tiro) bersama beberapa tokoh lain, untuk memproklamirkan berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Hasan Tiro menganggap, ada dua hal utama yang menjadi alasannya untuk mewujudkan berdirinya negara Aceh merdeka, yakni legitimasi atau keabsahan sejarah kerajaan Aceh, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi yang sangat timpang dan memilukan dari masyarakat Aceh. Ia menganggap, dengan potensi kekayaan gas alamnya, Aceh bisa setara dengan negara-negara maju seperti Singapura dan Brunei Darussalam, bila memisahka diri dengan Indonesia.
Pemerintah Orde Baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto, sama sekali tidak mau mengakui eksistensi dari Gerakan Aceh Merdeka, dan menyebutnya sebagai GPK (Gerakan Pengacau Keamanan), GPL (Gerakan Pengacau Liar), GBPK (Gerakan Bersenjata Pengacau Keamanan), GPLHT (Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro). Bahkan gerakan melepas diri dari NKRI ini mendapat respon tegas dari rezim Soeharto, dengan menumpas gerakan inimelalui operasi militer yang akhirnya menjadi kasus pelanggaran HAM berat.

·                Kronologis Konflik RI dan GAM
Sejak 1977, penumpasan GAM genjar dilakukan, puluhan anggota pimpinan wilayah Gerakan Aceh Merdeka tertangkap, bahkan terbunuh. Karena adanya operasi penumpasan ini, pimpinan GAM, Hasan Tiro, melarikan diri ke luar negeri pada 1983. Oleh karena itu GAM sempat tidak aktif selama beberapa tahun.
Pada 1989, GAM muncul kembali dengan pola perjuangan gerilyanya. Pola ini pun terbagi menjadi dua, yakni gerilya desa dan gerilya kota. Gerilya desa untuk mempersuasi masyarakat desa, sedagkan gerilya kota membangun opini yang bernada provokatif dan agitatif di luar dan di dalam negeri untuk menjelaskan bahwa perjuangan yang mereka cita-citakan adalah sah dimata hukum.
Dalam perjuangan gerilyanya tersebut, GAM melakukan berbagai tindakan pembentukan opini, agar warga bersedia ikut bergabung dan berjuang bersama mereka. Namun disisi lain, mereka tidak segan melakukan teror bahkan penindasan dan pembunuhan pada warga lokal, untuk mengancam dan mengintimidasi pemerintah. Tingginya tingkat perlawanan yang diberikan, menyebabkan diberlakukannya status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Menurut catatan dokumentasi, semasa berlakunya DOM di Aceh selama 10 tahun (1989-1998), Amnesty Inernational memperkirakan 2.000 orang tewas hanya dalam waktu 3 tahun (1989-1992).
Seiring dengan runtuhnya pemerintahan Orde Baru, untuk mendinginkan gejolak di Aceh pada Jumat, 7 Agustus 1998 Menhankam/ Panglima TNI Jenderal Wiranto mengumumkan pencabutan status DOM di Aceh.

·                Solusi Konflik RI dan GAM
Proses dialog antara Pemerintah Indonesia dan GAM baru terlaksana pada saat Presiden Abdurrahman Wahid membuka peluang tersebut dengan melibatkan Henry Dunant Centre (HDC) yang merupakan organisasi international non-government (NGO) sebagai mediator dalam penyelesaian konflik Aceh.keterlibatan HDC ini tentu saja telah disepakati oleh kedua belah pihak. HDC menawarkan jasa kepada pihak yang berkonflik untuk menerima keterlibatannya dalam menyelesaikan konflik. Baik pemerintah Indonesia atau GAM sama-sama menyadari bahwa konflik Aceh memerlukan peran pihak ketiga untuk dapat membawa kedua belah pihak ke meja perundingan. Perundingan-perundingan yang telah di fasilitasi oleh HDC antara lain :
1.    12 Mei 2000, di Jenewa, Swiss, menghasilkan Nota Kesepahaman untuk Jeda Kemanusiaan (Joint Understanding on Humanitarian Pause for Aceh).
2.    6-9 Januari 2001, menghasilkan Kesepahaman Sementara (Provisional Understanding). Namun setelah itu, kekerasan masih saja terjadi.
3.    9-10 Mei 2002 di Swiss, menghasilkan Pernyataan Bersama (Joint Statement) dimana GAM bersedia menerima UU NAD sebagai langkah awal dalam penyelesaian konflik.
4.    9 Desember 2002 di Jenewa, Swiss, menindak lanjuti Pernyataan Bersama tersebut, Kesepakatan Penghentian Permusuhan (The Cessation of Hostilities Agreement-COHA) berhasil ditandatangani.
Namun setelah ditandatanganinya perjanjian-perjanjian tersebut, masih saja terjadi kekerasan antara kedua pihak yang bersengketa. Pemerintah RI dan GAM sama-sama masih saling memegang pendiriannya masing-masing.
Karena semua perundingan yang difasilitasi oleh HDC gagal,  maka proses perundingan yang berikutnya difasilitasi oleh Crisis Management Initiative (CMI) sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional, yang bergerak dalam bidang resolusi konflik. Proses mediasi yang dilanjutkan oleh CMI ini dimulai dengan mengadakan lima tahap perundingan informal diantara Pemerintah Indonesia dan GAM, sehingga pada perundingan formal dapat dicapai Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki perdamaian antara pemerintah Indonesia dan GAM yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005.
Ada tiga poin utama dari MoU Helsinki tersebut bagi rakyat Aceh, yaitu, penerapan syari’at Islam dan Lembaga Wali Nanggroe, pembentukan partai politik lokal, dan pembagian hasil minyak bumi dan gas alamsebesar 70%. Sementara pihak GAM sendiri bersedia untuk menanggalkan tuntutan merdeka, dan bersedia membangun Aceh ke arah yang lebih baik di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Sumber           :












RANGKUMAN TEORI EKONOMI POLITIK MEDIA VINCENT MOSCO



RANGKUMAN TEORI EKONOMI POLITIK MEDIA  VINCENT MOSCO
(KOMODIFIKASI, SPASIALISASI, STRUKTURASI)




            Secara umum, Vincent Mosco (1996) mendeskripsikan bahwa teori ekonomi politik adalah sebuah studi yang mengkaji tentang hubungan sosial, terutama kekuatan dari hubungan tersebut yang secara timbal balik meliputi proses produksi, distribusi dan konsumsi produksi yang telah dihasilkan. Awal kemunculan teori ini didasari besarnya pengaruh media massa pada perubahan kehidupan masyarakat. Dengan kekuatan penyebarannya yang begitu luas, media massa dianggap tidak hanya dianggap mampu menentukan dinamika sosial, politik dan budaya baik dalam tingkat lokal, maupun gobal, akan tetapi media massa juga mempunyai peran yang sangat signifikan dalam peningkatan surplus secara ekonomi.
            Untuk dapat memahami konsep ekonomi politik media secara keseluruhan, Vincent Mosco menawarkan 3 konsep dasar yang harus dipahami, yaitu       :
A.    Komodifikasi
Komodifikasi berhubungan dengan bagaimana proses transformasi barang dan jasa beserta nilai gunanya menjadi suatu komoditas yang mempunyai nilai tukar di pasar. Dalam hal ini, produk media yang berupa informasi dan hiburan, menjadi barang dagangan yang dapat dipertukarkan dan bernilai ekonomis. Awak media dilibatkan untuk memproduksi dan medistribusikan ‘barang dagangan’ tersebut kepada konsumen yang beragam. Konsumen yang dimaksud dapat berupa khalayak pembaca media cetak, penonton televisi, pendengar radio, dan bahkan negara sekalipun yang memiliki kepentingan dengannya. Nilai tambahnya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana produk media dapat memenuhi kebutuhan individual maupun sosial.
Ada beberapa bentuk komodifikasi menurut Mosco, yaitu; komodifikasi isi atau konten, komodifikasi audiens atau khalayak dan komodifikasi pekerja.
a.       Komodifikasi Isi/Konten
Proses komodifikasi ini dimulai ketika pelaku media mengubah pesan melalui teknologi yang ada menuju sistem interpretasi yang penuh makna sehingga menjadi pesan yang marketable. Akibatnya, akan terjadi keragaman dari isi media untuk dapat  menerima perhatian khalayak.  Contoh dari komodifikasi ini adalah seperti yang ada padaprogram X-Factor Indonesia yang ditayangkah oleh RCTI setiap hari Jumat malam. Pada program ini komodifikasi isi/kontent dapat diwujudkan dalam bentuk kualitas vocal dari masing-masing peserta, penampilan peserta, profil peserta serta latar belakang peserta program tersebut.
b.      Komodifikasi Audiens/Khalayak
Audiens merupakan komoditas yang penting untuk  media massa dalam mendapatkan iklan dan pemasukan. Media dapat menciptakan khalayaknya sendiri dengan program-program menariknya, sehingga kemudian para pengiklan akan tertarik untuk beriklan di media massa tersebut.
Media biasanya menjual audiens dalam bentuk rating atau share kepada advertiser untuk dapat menggunakan airtime mereka. Cara yang ditempuh adalah dengan membuat program yang dapat menembus rating yang lebih tinggi dari program lain.
Selain komodifikasi dalam bentuk rating, saat ini komodifikasi audiens juga sudah mulai berkembang. Caranya, dengan secara langsung melibatkan audiens dalam program-program yang dibuat media. Contoh yang sering terjadi adalah dengan melibatkan audiens dalam pengambilan suara (voting) dalam sebuah ajang pencarian bakat, hal ini dilakukan agar audiens merasa keterlibatannya penting dalam keberlangsungan sebuah program media massa. Contoh Program: Indonesian Idol di RCTI, D’Academy di Indosiar dan program-program lain yang melibatkan polling SMS dari pemirsa untuk pengambilan suara bagi pesertanya.
c.       Komodifikasi Pekerja/Labour
Pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi. Bukan hanya produksi, namun juga distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengkonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkannya jika bekerja dalam sebuah institusi media massa.
Komodifikasi dalam aspek ini pun sekarang juga telah berkembang seiring denga perkembangan program-program di media massa. Dewasa ini pekerja media kerap dilibatkan secara langsung dalam sebuah program media. Mereka di tempatkan tidak hanya dibelakang layar, namun juga didepan layar, sehingga dapat menjadi konsumsi audiens. Contoh program: YKS (Yuk Keep Smile) Trans TV. Dalam program ini, seluruh crew dilibatkan baik dalam proses dibelakang layar maupun didepan layar kaca. Sehingga ketika menyaksikan acara ini tidak jarang dapat disaksikan crew berseragam Trans TV yang berlalu lalang (misalnya dalam segmen joget, pencarian jodoh, hipnotis, dll)

B.     Spasialisasi
Spasialisasi berkaitan dengan bagaimana media mampu menyajikan produknya didepan pembaca dalam batasan ruang dan waktu. media menentukan perannya di dalam memenuhi jaringan dan kecepatan produk media kepada khalayaknya.
Spasialisasi juga dimaknai sebagai perpanjangan institusional media melalui bentuk korporasi dan seberapa besar bentuk usaha media tersebut. Ukurannya bisa berbentuk horizontal maupun vertikal. Dalam bentuk horizontal, perpanjangan ini biasanya menjelma dalam bentuk-bentuk konglomerasi, yang pada akhirnya memunculkan tindakan monopoli. Beberapa kasus yang sering terjadi dalam industri media adalah, ketika suatu perusahaan media membeli bagian lain dari suatu perusahaan lain. Spasialisasi sering dikaitkan dengan bagaimana media melakukan ‘pembesaran’ lingkup medianya demi menjangkau khalayak
Contoh konkret dari spasialisasi horizontal ini adalah katika  MNC Group yang menaungi beberapa stasiun televisi seperti RCTI dan Global TV, kemudian membeli TPI yang kemudian diubah namanya menjadi MNC TV.
Sementara spasialisasi vertikal adalah proses integrasi antara induk perusahaan dan anak perusahaan yang dilakukan dalam satu garis bisnis untuk memperoleh sinergi, terutama untuk memperoleh kontrol dalam produksi media.
Spasialisasi dalam bentuk vertikal yang terjadi di Indonesia misalnya dari kepemilikan Bakrie & Brothers Group yang selain memiliki bisnis media ( TVOne, ANTV, VivaNews) juga merentangkan sayapnya di bidang telekomunikasi (PT. Bakrie Telecom Tbk, PT. Bakrie Connectivity, PT. Bakrie Communications Corporation, PT. Stone Path Indonesia atau biasa disebut Path), agribisnis (PT. Bakrie Sumatra Plantations Tbk) , minyak dan gas (PT. Bumi Resources Tbk & PT. Energi Mega Persada Tbk) , properti (PT. Bakrieland Development Tbk) , dan masih banyak lagi.



C.    Strukturasi
Strukturasi dapat digambarkan sebagai proses dimana struktur sosial saling ditegakkan oleh para agen sosial, dan bahkan masing-masing bagian dari struktur mampu bertindak melayani bagian yang lain. Hasil akhir dari strukturasi adalah serangkaian hubungan sosial dan proses kekuasaan diantara kelas, gender, ras dan gerakan sosial yang masing-masing berhubungan satu dengan yang lainnya. Hstrukturasi juga berkaitan dengan bagaimana cara media membangun hegemoni dan menegakkan hegemoni atau pemahaman yang mendominasi masyarakat. Gagasan tentang strukturasi ini pada mulanya dikembangkan oleh Anthony Giddens.
Contoh strukturasi di media massa Indonesia dapat dengan mudah ditemukan pada program D’Academy 2 yang ditayangkan di Indosiar. Jargon yang sering diucapkan oleh salah satu dari 5 juri di program tersebut, kini mulai menjadi trend kosa kata baru yang sering diucapkan oleh masyarakat. Jargon tersebut adalah “apalah-apalah” milik Iis Dahlia.
Sebelumnya strukturasi semacam ini juga pernah terjadi dalam acara Indonesia Mencari Bakat (IMB) 3, yang pada saat itu mempopulerkan jagon “Jos gandos “ milik juri Soimah dan “Cetar Membahana” milik juri Syahrini.











DAFTAR PUSTAKA






MEDIA SOSIAL: SARANA LAHIRNYA MASYARAKAT DIGITAL




Lahirnya Media Sosial sebagai Media Komunikasi
Di era global saat ini, siapa yang tak kenal internet?, internet merupakan salah satu perwujudan dari perkembangan teknologi informasi sekaligus komunikasi yang sangat populer di kalangan masyarakat modern. Internet menyediakan akses bebas dan tak terbatas terhadap informasi.  Populernya internet sebagai media komunikasi memunculkan banyaknya founder-founder di bidang internet untuk membuat media komunikasi dan informasi baru yang dapat diakses dengan mudah, dengan memanfaatkan koneksi internet.
Seperti halnya dengan perkembangan teknologi di bidang lain, terdapat pula beberapa fase perkembangan media sosial.  Perkembangan media sosial di awali dengan penemuan sistem papan buletin oleh duo Ward Christensen dan Randy pada 1978.  Sistem ini memungkinkan penggunanya untuk saling megirim dan menerima informasi (download dan upload), serta mengirim surat elekronik (e-mail) dengan menggunakan koneksi yang tersambung dengan modem saluran telepon.
Selanjutnya pada 1995, lahir layanan situs webhosting pertama bernama GeoCities. Situs ini menyediakan layanan penyimpanan data-data website, sehingga dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Situs ini menjadi awal munculnya website-website lain.
Pada 1997 muncul layanan media sosial sixdegree.com. Sedangkan media sosial blogger.com lahir pada 1999. Blogger menyediakan layanan bagi para penggunanya untuk membuat dan mengelola halaman situsnya sendiri secara gratis. Pengguna blogger dapat dengan mudah dan bebas menggunakan halamannya sendiri.
Pada 2002, muncul media sosial friendster. Media sosial ini menjadi tren pada awal kemunculannya. Banyak pegguna internet berlomba-lomba untuk membuat akun friendster­nya untuk mengikuti perkembangan media sosial pada masa itu. Media ini sekaligus menjadi tonggak lahirnya media-media sosial modern lain. Menyusul kehadiran friendster, pada 2003 lahir LinkedIn. Meski tak sepopuler keberadaan friendster, pengguna media sosial ini pun cukup banyak. Hal ini dikarenakan telah berkembangnya fungsi media sosial dalam LinkedIn yang memungkinkan penggunanya untuk bermedia sosial sekaligus mendapatkan akses informasi lowongan pekerjaan.
MySpace muncul beriringan dengan LinkedIn pada 2003. Situs ini dianggap sebagai situs yang paling bersahabat dengan pengguna internet karena sistemnya yang mudah dan friendly.
Seorang programer asal Inggris bernama Mark Elliot Zuckerberg, memperkenalkan penemuan fenomenalnya kepada publik pada 2004. Jejaring sosial yang  diberi nama facebook tersebut, kini merupakan media sosial dengan jumlah pengguna terbanyak di seluruh dunia. Kemunculan facebook dapat dikatakan menyempurnakan media sosial sebelumnya karena memasukkan berbagai fungsi media sebelumnya, sehingga dapat dikatakan media ini sebagai media multi-fungsi.
Seperti ingin mengulang kepopuleran facebook, pada 2006 media sosial twitter hadir dan menawarkan fitur yang hampir serupa dengan facebook. Namun bagi sebagian orang, twitter dianggap kurang unggul dalam memposting karakter dalam jumlah besar, karena hanya dibatasi 140 karakter saja.
Dan selanjutnya, perkembangan media sosial di tahun-tahun berikutnya terjadi begitu cepat. Hal ini ditandai dengan kemunculan media-media sosial terbaru, seperti instagram dan path yang sama-sama menjadi media sosial yang paling eksis hingga saat ini.

Media Sosial sebagai Sarana Lahirnya Masyarakat Digital
Tidak dapat dipungkiri, bahwa kemunculan media sosial sebagai media komunikasi modern, sangat mempermudah penyampaian dan penerimaan informasi bagi penggunannya. Hal ini ditunjukkan dengan cepat dan mudahnya proses pertukaran informasi yang terjadi. Media mengemas teknologi komunikasi terdahulu menjadi lebih praktis, simple dan modern. Misalnya, dahulu masyarakat menggunakan surat sebagai sarana tukar informasi. Namun kini, kehadiran surat tergeser dengan munculnya e-mail (electronic mail), yang merupakan bentuk modern dari surat itu sendiri.
Selain dimudahkan dalam aspek pertukaran informasi, kehadiran  media sosial juga menghadirkan efek lain dalam kehidupan masyarakat modern. Wujud dari salah satu efek tersebut adalah, lahirnya ‘masyarakat digital’. Hal ini terjadi ketiaka, masyarakat mulai menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berinteraksi melalui media sosial. Kegiatan-kegiatan yang pada mulanya dilakukan di dunia realitas, kini dengan hadirnya media sosial dapat dengan mudah dan cepat dapat dilakukan. Contohnya: dahulu kegiatan belanja (shopping) hanya dapat dilakukan di toko, warung atau pusat-pusat perbelanjaan, namun kini kegiatan tersebut dikemas secara lebih praktis, mudah dan cepat dengan munculnya ‘lapak-lapak online’ atau online shop, yang entah dimulai oleh siapa, kini sangat riuh di media sosial. Mulai dari pakaian, kosmetik, alat-alat rumah tangga, bahkan makanan pun kini dapat dengan mudah dipesan ke si penjual dengan menggunakan sistem order-pay-ship (pesan-bayar-antar).
Di salah satu media sosial ‘Instagram’, kehadiran lapak-lapak online ini dapat dibilang sangat kentara dan signifikan. Dapat dikatakan bahwa Instagram merupakan media yang idela bagi lapak-lapak online ini. Hal ini karena Instagram menyediakan fitur post dengan foto dan caption sehingga para pengelola lapak online dapat menggunakan galeri Instagram mereka untuk ‘memajang’ dan ‘menggelar’ dagangannya dengan bebas. Online shop- online shop di Instagram biasanya menyertakan harga dan lokasi asal pengiriman untuk memudahkan pembeli melakukan tracking terhadap pengiriman barang mereka. Hal ini akan sangat membantu untuk memantau ketepatan pengiriman jasa ekspedisi yang digunakan.
Adanya paket lengkap dari media sosial tersebut, seperti semakin mengamini masyarakat untuk hidup makin bergantung padanya. Dampak positif dari hal ini adalah, kemudahan masyarakat untuk mendapatkan dan meneruskan inofrmasi, sehingga dapat mengikuti perkembangan baik secara nasional bahkan internasional. Dengan sekali akses media sosial, semua kegiatan dapat dengan mudah dilakukan. Dengan sekali klik, apapun bisa terselesaikan. Masyarakat kita menjadi lebih aktif dalam menggunakan teknologi untuk hal-hal yang ‘menurut mereka’ lebih berguna. Hal ini secara otomatis meningkatkan kesadaran masyarakat untuk semakin ‘melek media’, khususnya untuk generasi-generasi mendatang.
Dampak negatif dari perkembangan media sosial adalah,  kegiatan interaksi secara langsung dengan tatap muka mulai ditinggalkan. Hal ini tentu akan menyebabkan kesenjangan dan ketidakseimbangan proses sosial dalam masyarakat. Sebagai makhluk sosial, proses interaksi sangat penting dalam kehidupan manusia. Interaksi sosial-lah yang membentuk lingkungan sosial, jika interaksi kini hanya dilakukan di media sosial, maka tentulah akan terjadi kerenggangan dalam hubungan sosial antar manusia.
‘Generasi Nunduk’, frase itulah yang sering dilontarkan untuk menggambarkan keadaan masyarakat kita kini. Ketika kebanyakan individu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menunduk, sibuk dengan aktifitas gadgetnya. Dimanapun dan kapanpun, ‘nunduk’ menjadi kegiatan yang paling mengasyikkan dibanding kegiatan lain, termasuk berinteraksi dengan orang yang bahkan hadir tepat di samping kita. Tua, muda, miskin, kaya, apapun gadget yang digenggamnya, mahal atau murah, kegunaannya sama, untuk ‘nunduk’.
Tidak dapat dipungkiri, semua individu terkena dampak dari munculnya media sosial dalam masyarakat kita, baik dalam hal positif maupun negatif. Maka dari itu, masyarakat pengguna media sosial hendaknya dapat memanfaatkan media sosial dengan seperlunya dan sewajarnya. Jangan menggantungkan semua hal pada media sosial. Memang benar bahwa dengan media sosial kita dapat melakukan banyak hal. Namun, tidak semua hal bisa didapatkan dengan media sosial, misalnya hubungan baik dan interkasi sosial yang intim dengan sesama. Maka dari itu, lakukan hal yang masih bisa dilakukan tanpa menggunakan teknologi, misalnya pergi keluar dan berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, bersosialisasi dan mempererat hubungan dengn yang lain. Bukan melalui media, tapi bertatap muka secara langsung. Sehingga akan tercipta interaksi sosial yang selaras dengan komunikasi yang dilakukan baik dengan atau tanpa media sosial. Hal ini agar tittle ‘Generasi Nunduk’ sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti akan luntur dari generasi kita.




Saturday, November 02, 2013

HOW TO CHANGE YOUR FACEBOOK THEME

So this time, I will share to you about 'How to Change Your Facebook Theme'.
In this case, I uses Google Chrome extension. So, automatically you should use Google Chrome to follow this 'How to Change Your Facebook Theme' created by mine, because other browser will not have  Google Chrome extension (ups, sorry! hehe).

STEP :


1. Open your Google Chrome browser.
2. Click this icon  (circled one)

3. Scroll down the side bar to find 'tools' , when your cursor point at it there'll be another side bars appears then select 'extension'.
4. Scroll down the 'extension' page to found 'get another extension' link.
5. Click the link and search 'Facebook Theme Creator' on the search box.
6. There will be many search result appears, and the one that you should choose is this one
7. Click the free button, and wait until the automatic download bar appears on the bottom of your chrome browser.
8. It'll be installed aoutomaticaly in your chrome browser as an extension.
9. Now, open your facebook. You'll see a rainbow colored circle beside your 'Home' link.
10. Click it and the options of  facebook theme customization will appear.
11. You have 2 options, choose the theme which already available or cutomize your own.
By choosing to make your own theme, you can use your own picture or  insert the url of the picture you like. You can also choose your favorite colors for your theme. NOW, START YOUR EXPERIMENT!


LOOK, THIS IS MINE! SHOW ME YOURS! (Don't forget to comment and rate my post, you can also ask me by comment or cbox.)





THIS POST IS
WRITTEN BY MISSSHEIII

Tuesday, October 29, 2013

Bonnie and Clyde: Poem about Bonnie and Clyde by Bonnie


You’ve heard the story of Jesse James,
Of how he lived and died,
If you’re still in need of something to read, 
Here’s the story of Bonnie and Clyde,
 Now Bonnie and Clyde are the Barrow gang,
I’m sure you all have read how they rob and steal,
And those who squeal are usually found dyin’ or dead,
They call them cold-hearted killers,
They say they are heartless and mean,
But I say this with pride,
That I once knew Clyde, when he was honest and upright and clean.
But the laws fooled around, kept takin’ him down,
And lockin’ him up in a cell,
Till he said to me “I’ll never be free. So I’ll meet a few of them in Hell.” If a policeman is killed in Dallas,
And they have no clue to guide,
If they can’t find a fiend,
They just wipe their slate clean,
And hang it on Bonnie and Clyde,
If they try to act like citizens,
And rent them a nice little flat,
About the third night,
They’re invited to fight,
By a sub-guns’ rat-a-tat-tat,
Some day, they’ll go down together,
They’ll bury them side by side,
To a few, it’ll be grief,
To the law, a relief ,
But it’s death for Bonnie and Clyde.


(Bonnie Parker)






The Story of Bonnie and Clyde, World Class Criminal Couple








“The strangest damned gang you ever heard of. They’re young. They’re in love. They rob banks.”





You've read the story of Jesse James, of how he lived and died. If you're still in the need of something to read, here's the story of Bonnie and Clyde.


Bonnie Parker was born on October 1, 1910 in Rowena, Texas. She was the second of three children. Her father was a bricklayer by trade. In 1914, her father dies and the family packed up and moved in with her maternal grandparents in Cement City near Dallas. Bonnie attends Cement City School and is an excellent student. In 1924 she enters Cement City High School and even wins the Cement City spelling championship. At 4 foot, 10 inches and 85 pounds, Bonnie is no dumb blonde. She is an addicted fan of romance and confession magazines.

In 1925, she met Roy Thornton and the following year they exchanged tungsten wedding bands. She loved him to the point of where she proceeded to get a tattoo on the inside of her thigh of two intertwined hearts with their names in the middle. She should have waited a little longer. A year later Mr. Thornton begins to wander and Bonnie is left in West Dallas to brood. At this time she has a job as a waitress in Marco's Cafe which is located in East Dallas.

Bonnie was, as you can see, very depressed and lonely at only 18 years old. She muddled through this existence until the beginning of 1930 when she visited a friend in West Dallas. Here she met a pixie eared gentleman by the name of Clyde

Clyde Barrow: Clyde Champion Barrow (actually his middle name was "Chestnut"), aliases Roy Bailey, Jack Hale, Eldin Williams, Elvin Williams, was born in Telico, Texas on March 24, 1909. He was the third youngest of eight children. His father was a sharecropper. Clyde's schooling days, if you can call them that, were sporadic and he never went past the fifth grade. When Clyde is 12, the family gives up farming and moves to West Dallas where his father opens a service station and Clyde attends the Cedar Valley School. He quits shortly after and becomes involved in selling stolen turkeys with his brother Buck. He's arrested three more times for investigation of auto theft and safecracking but let go.

In 1928, he moves out of the house. He was 5 foot 6 and 3/4 inches tall with a schoolboy face. He loves playing the sax and idolized movie actor William S. Heart and the legendary Bill Cody.

On October 16, 1929 he was arrested with William Turner and Frank Hardy at the Roosevelt Hotel in Waco, Texas. He told Chief of Police Hollis Barron through a stream of tears that the two men had picked him up hitchhiking and he was unaware of their reputations. Barron let him go. This was probably the last break Clyde would ever get.

He should have heeded his good fortune. In January of 1930, he visited a friend in West Dallas and met Bonnie Parker. Thus the romance began.

Bonnie became aware of Clyde's past when the "laws" came looking for him and took him back to Denton, Texas about some stolen merchandise. When they could not make it stick, they transferred him to Waco where he confessed to a couple of burglaries and several car thefts. He couldn't cry his way out of this one. He was sentenced to two years on each count but the courts allowed the sentences to run concurrently.

As it turned out, his cell mate turned out to be William Turner. Bonnie, who visited Clyde every day, smuggled a Colt to Clyde and that night Clyde, Turner and another prisoner by the name of Emory Abernathy escaped.

Freedom was short lived. Clyde and Turner (Bonnie was not with them) were recaptured in Middletown, Ohio and Clyde got 14 years at the Texas State Penitentiary. the two constantly kept in touch by letter writing


But the 'laws' fooled around, kept taking him down and locking him up in a cell 'till he said to me "I'll never be free so I'll meet a few of them in Hell.



With the intervention of his mother, Clyde was pardoned from prison on February 2, 1932. Unfortunately, just prior to his release, he had another inmate chop off two of his toes on his left foot during a work detail in order for him to avoid working in the cotton fields. He left prison on crutches. Here Clyde made a halfhearted attempt at work in Massachusetts. That lasted all of two weeks. He returned to Bonnie and off they went -- in a stolen car.
The "laws" caught up with them, Clyde escaped and Bonnie ended up in the Kaufman, Texas jail for a couple of months. It was at this time that Bonnie wrote the poem "The Story of Suicide Sal."
Meanwhile, Clyde kept busy. He robbed the Sims Oil Company in Dallas and escaped. The turning point came on April 13 when the robbery of a jewelry store owned by John Bucher ended up with Bucher's death. Although Clyde claimed he was in the car at the time of the shooting, he and Raymond Hamilton, a childhood friend, were then known as the killers of John Bucher. Clyde's career had began in earnest. A series of gas station robberies followed and Clyde was identified as one of the perpetrators.
Bonnie was released from jail in June and joined Clyde. On August 5, while he was in Atoka, Oklahoma with Hamilton (it is unclear why Bonnie was not with them), they killed two policemen, C.G. Maxwell and Eugene Moore, who went to investigate them while they were drinking inside the car.
Several other thefts took place after this and also a couple of robberies which culminated in murder. Hamilton was apprehended during this time in Michigan, sent back to Dallas and given a mere 263 years.
Tne morning in Rustin, Louisiana, Bonnie and Clyde stole a car belonging to a Mr. Darby from a boarding house. He saw them. He asked Miss Sofia Stone if he could borrow her car to give chase. They did, but realized they could not keep up and turned their machine around. When they looked in the rear view mirror, they saw they were being pursued by their own stolen car. They were taken in Mr. Darby's own car as captives. As Miss Stone tells it, a gun was kept in her side all the time by Bonnie and she was told that if they weren't so likable they would have been killed. Bonnie laughed when she asked Mr. Darby his profession and found out it was an undertaker. She said maybe someday he would be working on her. As it turned out, Bonnie couldn't have been closer to the truth. They were let go. But Mr. Darby would see Bonnie one more time
W.D. Jones, a petty thief, was Bonnie and Clyde's newest member on their road to nowhere. Malcom Davis was the next police officer to lose the draw to Clyde's deadly aim.



Now Bonnie and Clyde are the Barrow gang. I'm sure you have all read how they rob and steal and those who squeal are usually found dying or dead.


In March of 1933, Marvin (Buck) Barrow was released from the Texas Penitentiary after serving a short term for burglary and, with his second wife Blanch, joined his brother, Bonnie and W.D. Jones in Joplin, Missouri. The five set up house in a garage apartment and stayed there until April when the police, thinking they had found a gang of illegal gin brewers, closed in. In the ensuing gun battle, Clyde was shot as was Jones but two more officers bit the dust.

In the apartment, officers found Buck's pardon and a guitar. A newspaperman found some undeveloped film. When developed, one of the shots was Bonnie holding a shotgun on Clyde and the most famous -- Bonnie -- smoking a cigar. In actuality, she had borrowed the cigar from Jones. Bonnie smoked Lucky Strikes. But the myth was created. She was now known as the cigar smoking moll of the Barrow gang. It was a moniker that Bonnie hated.


If they try to act like citizens and rent them a nice little flat about the third night, they're invited to fight by a sun-gun's rat-tat-tat.


By now, it was all downhill. Near Wellington, Texas, their stolen Ford plunged off a bridge under construction and Bonnie was pinned underneath. The machine caught fire. Rescued by some farmers, who saw the arsenal of weapons in the car, one ran off to call police. One of the women neighbors who came to help was shot by a nervous W.D. Jones. He blew her hand off. When two policemen came to investigate, the Barrow gang overpowered them. Along with Bonnie, they were loaded into the car and later released. Bonnie's leg would never be the same.

Their next place of residence was the Red Crown Tourist Camp in Platte City, Missouri. They rented a double cabin with a garage in between. The police paid them another visit. In this gun battle Buck was hit in the forehead. Blanche was hit in the eyes with flying glass. The gang put a set of sunglasses on her face. Once again, they escaped but were found three days later in a park in Dexter, Iowa on a tip from a waiter who informed police that a man had for the past few days ordered five meals and taken them into the woods. Clyde, in his haste to escape, ran his car into a stump and the police proceeded to riddle it with bullets. Buck was hit several more times -- in the hip and shoulder.

Clyde and Jones took Bonnie and escaped through a stream and proceeded through a cornfield to a farm. Holding the farmer and his son at bay, they took his car. Buck was captured and died from his wounds a few days later in a Perry, Iowa hospital. Blanche, probably the most innocent of all (she was constantly trying to reform Buck) was sent to the Missouri State Penitentiary.

The next few months were probably the worst ever for the two. W.D. Jones left them but was later captured in Texas. He claimed that towards the end he was kept captive by a pair of desperadoes for fear of squealing on them. He was scared to death after his capture. Rightly so -- he was only 17 years old.

Bonnie's leg became deformed for lack of good medical attention. In November, while trying to visit their parents, sheriff Smoot got wind of it, set up an ambush and with other law officers, blasted the car. Bonnie and Clyde, both hit in the legs, once again escaped. Clyde had more lives than a cat.



The road gets dimmer and dimmer; Sometimes you can hardly see but it's flight, man to man, and do all you can, for they know they can never be free.



In January, Clyde and Bonnie sprang Raymond Hamilton from the Eastham Prison Farm in Huntsville, Texas. Along with Hamilton was one Henry Methvin. Another police officer, Major Crowson, would not see the days end. Between January and March, several banks were robbed and were attributed to the Barrow gang. In March, Hamilton split from the gang for reasons that are uncertain. Now matter -- Hamilton would be later captured and sent to the electric chair in 1935 for the murder of the guard at Huntsville.



If a policeman is killed in Dallas and they have no clue or guide; If they just can't find a fiend they just wipe their slate clean and hang it on Bonnie and Clyde.


On Easter Sunday, 1934, on a side road off Highway 114 in Grapevine, Texas, Clyde and Methvin killed two police officers who thought they needed help. Five days later they kill police officer Cal Campbell and kidnap Chief Percy Boyd in Commerce, Oklahoma. They let Percy go but not before Bonnie asks him to tell the public she does not smoke cigars. Bonnie's priorities are a little distorted by now. They also have less than a month to live.

Now the law enforcement authorities start putting the pressure. They constantly harass Clyde and Bonnie's relatives and try to seek indictments on anyone who has tried to conceal or help the two. Lee Simmons, who at that time was head of the Texas Prison System, was enraged at the Huntsville break. He receives permission from Texas Governor Miriam Furguson to hire a special agent. That special agent was retired Texas Ranger Frank Hamer.

Hamer, working for a salary of $150 a month, took to Clyde's trail on February 10. He used a Ford V8 which he knew Clyde was partial to. He picked up their trail in Texarkana but always seemed to be a day late. While the chase was on, Clyde killed three more policemen.



A newsboy once said to his buddy: I wish old Clyde would get jumped; in these awful hard times we'd make a few dimes if five or six cops would get bumped.


Ivan Methvin, Henry's father, had in the past let Bonnie and Clyde use his place to hide. Now fearing for his son's life, made a deal with Lee Simmons. A full pardon for his son in Texas for information on the Barrow gang. Hamer was informed of a "post office" that was used by the Barrows. It was a large board which lay on the ground near a large stump of a pine tree. It was on a farm to Market Road several miles from Plain Dealing, Louisiana. The "post office" was used for communication among the Barrow gang and their friends and relatives. The scene was set.

At this time, Hamer picked up his old friend B.M. Gault. The other men who were in on the kill were Bob Alcorn, Ted Hinton, Henderson Jordan and Paul Oakley. At 1:30 a.m. they set up blinds with tree branches approximately 25 feet from the road on the east side so that they could look down on the road. They placed themselves approximately ten feet apart. Then they waited.

They waited for approximately seven hours when at about 9:10 a.m. they heard a machine approaching at a high rate of speed. It is unclear whether Hamer or Alcorn stepped into the road to challenge them. When the car stopped they were told to give up. They reached for their guns but never had a chance to use them. The posse opened fire with steel jacketed, high velocity bullets. The car leaped ahead and came to a halt in a ditch beside the road. The firing continued after the car came to a halt.

The officers, even after pumping 167 rounds into the car, approached the machine carefully. Bonnie Parker and Clyde Barrow couldn't have been any deader. Fifty rounds had smashed into their bodies. Some through the driver's door, through Clyde, through Bonnie and out the passenger door. The fingers on Bonnie's right hand had been shot away. Her left hand held a bloody pack of cigarettes. She died with her head slumped between her legs, a gun across her lap. Bonnie was 23 years old, Clyde 24. It looked as if Bonnie had just gotten a permanent wave.

Inside the car, Hamer found the following: 1 saxophone, 3 Browning automatic rifles, 1 10 gauge Winchester lever action, sawed-off shotgun, 1 20 gauge sawed-off shotgun, 1 Colt 32 caliber automatic, 1 Colt 45 caliber revolver, 7 Colt automatic pistols, and approximately 3,000 rounds of ammunition. They found license plates from Illinois, Iowa, Missouri, Texas, Indiana, Kansas, Ohio and Louisiana.




They don't think they're too smart or desperate. They know that the 'laws' always wins; They've been shot at before, but they do not ignore that death is the wages of sin.


The car was towed with the bodies in it to Arcadia, Louisiana. The crowds were already waiting.

Their bodies were placed in the undertaker's parlor, which was the rear room of a furniture store. The crowds were uncontrolled to the point where the undertaker had to squirt embalming fluid on them to keep them back.

Clyde was buried in a West Dallas cemetery on May 25 next to his brother Buck. Thousands of thrill seekers were present, some snatching the flowers from his grave.

Bonnie's mother had refused to have Bonnie buried next to Clyde and so she was buried on May 27 at the West Dallas Fishtrap Cemetery.

Frank Hamer received thousands of letters of congratulations and was also honored on the floor of congress. Hamer died in 1955.

Henry Methvin received his pardon from Texas as promised -- but not from Oklahoma. He was arrested for murder, sentenced to death which was later commuted to life. He served 12 years, was released and run over by a train in 1948.

Twenty-three persons were brought to trial on charges of harboring Bonnie and Clyde.

Clyde's and Bonnie's families tried to gain ownership of the guns that they were found with because they realized their worth to collectors. They did not receive them

The gray V8 Ford was shown for years after that at State Fairs for 25 cents a look.

It is said that Bonnie never killed anyone. No matter how much it is debated, the truth will probably never be known. A modern-day Belle Starr, she apparently justified her criminal activities because she did not want to leave her man's side. She would stay with him no matter what -- even though it meant the death of nine police officers.

Even John Dillinger, who had less than a month to live himself, commented that Bonnie and Clyde gave bank robbing a bad name.



Some day they'll go down together. They'll bury them side by side. To few it'll be grief - To the law a relief - but it's death for Bonnie and Clyde.


Original post by Paul Rosa NCSA Member #135